:

HDDAP Jadi Motor Transformasi Pertanian Lahan Kering di Sumenep

top-news
https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

SUMENEP I  MaduraNetwork.id - Pemerintah Kabupaten Sumenep terus memperkuat langkah strategis dalam mendorong kemajuan sektor pertanian melalui Program Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP). Program ini diproyeksikan menjadi penggerak utama transformasi pertanian berkelanjutan, khususnya pada wilayah dengan karakteristik lahan kering.

 

Wakil Bupati Sumenep, KH. Imam Hasyim, menegaskan bahwa HDDAP memiliki posisi penting dalam mengembangkan sektor hortikultura yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekaligus meningkatkan taraf hidup petani. Hal itu disampaikannya saat Rapat Koordinasi HDDAP di Kantor Bupati, Kamis (16/04/2026).

 

Menurutnya, program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mengusung pendekatan menyeluruh. Mulai dari penguatan kapasitas sumber daya petani, pembenahan kelembagaan, penerapan teknologi tepat guna, hingga pengembangan rantai nilai komoditas hortikultura.

 

Ia berharap, implementasi HDDAP mampu menghadirkan inovasi pertanian yang berdampak nyata, terutama dalam menghasilkan produk hortikultura yang berkualitas dan berdaya saing tinggi di pasar.

 

Kabupaten Sumenep sendiri menjadi salah satu dari 13 daerah di Indonesia yang memperoleh program tersebut. Dalam pelaksanaannya, HDDAP memprioritaskan tiga komoditas unggulan, yakni pisang, bawang merah, dan cabai.

 

Pengembangan komoditas tersebut tersebar di lima kecamatan. Kecamatan Batuputih difokuskan pada komoditas pisang, sementara Ambunten dan Rubaru menjadi sentra pengembangan cabai. Adapun Guluk-Guluk dan Pasongsongan diarahkan untuk pengembangan bawang merah.

 

Secara rinci, untuk komoditas pisang telah terbentuk dua klaster di Batuputih dengan total luasan lahan mencapai 32,53 hektare. Sementara itu, bawang merah dikembangkan melalui empat klaster di Guluk-Guluk seluas 49,77 hektare dan tujuh klaster di Pasongsongan dengan luasan 53,94 hektare.

 

Di sisi lain, komoditas cabai rawit menunjukkan perkembangan cukup signifikan. Di Ambunten terbentuk dua klaster dengan luas lahan 62,87 hektare, sedangkan di Rubaru terdapat 16 klaster yang mencakup area seluas 112,28 hektare.

 

Lebih lanjut, Wabup menekankan pentingnya perubahan pola pikir petani. Ia mendorong agar para petani mulai beralih dari metode tradisional menuju sistem pertanian modern yang lebih produktif serta berorientasi pada kebutuhan pasar.

 

Keberhasilan program ini, lanjutnya, tidak semata diukur dari peningkatan hasil panen, tetapi juga dari kemampuan menciptakan sistem pertanian yang berkelanjutan, ramah lingkungan, serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

 

Olehrena itu, sinergi antar pihak menjadi kunci utama dalam menyukseskan HDDAP. Kolaborasi yang kuat diharapkan mampu memastikan setiap program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

 

Ia juga menegaskan bahwa petani harus menjadi aktor utama dalam menjaga keberlanjutan program. Dengan keterlibatan aktif petani, pembangunan sektor pertanian di Sumenep diyakini akan berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

 

“Program ini harus menjadi ruang kolaborasi yang nyata, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” pungkasnya. (yud)

 

https://maduranetwork.id/public/uploads/images/photogallery/maanphotogallery29072024_011116_1_20240727_175229_0000.png

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *